Saya sungguh tahu dia begitu mencintai Tuhannya. Sungguh terlihat dari semangatnya ketika menceritakan kisah kisah religi yang ia tahu padsaya. Ada aura yang berbeda ketika ia bercerita tentang Tuhan, tentang doa, tentang kekuatan iman.
“minggu depan temenin saya ibadah ya” katanya suatu hari, saya langsung mengiyakan. Sebenarnya saya ingin bertanya, macam macam, tapi saya tahan pertanyaan saya itu. Biarlah ia sendiri nanti yang menjelaskan. Sebenarnya pertanyaanku tidak aneh aneh, saya cuma mau menanyakan, apa yang nanti harus saya lakukan ketika menemaninya ibadah. Pakaian apa yang mesti saya kenakan. Itu saja. Terang aja saya tidak tahu, saya belum pernah sekalipun masuk ke greja. Apalagi ikut ibadahnya.
Memang saya dilahirkan dalam keluarga yang taat beragama, tidak pernah sekalipun kedua orang tua saya melewatkan sembahyang ketika ada hari besar maupun hari raya lainnya dipura.
Namun dalam hati, sejak lama saya meragukan keberadaan-Nya. Berbagai macam pertanyaan dalam otakk tak mampu kutemukan jawabannya. Pendidikan di sekolah pun makin membuatku meragukan keberadaan Tuhanku sendiri. Yang ada dalam pikiran saya, semua itu hanya dongeng yang dikarang orang orang zaman dahulu. Pertanyaan pertanyaan itu lah yang mengantarkanku pada kesimpulan. Saya tidak percaya ada Tuhan.
Berulang kali saya mencoba membuktikannya, membuktikan bahwa saya tidak perlu bantuanNya untuk menyelesaikan persoalan persoalanku.
Lulus SMA, saat teman teman yang lain sudah diterima di berbagai perguruan tinggi, saya sama sekali belum tahu dimana akan kuliah, belum ada titik terang. Pengumuman SPMB pun masih lama, sungguh membuat galau jiwa raga lahir bhatin dikandung hayat. Ada niat saya minta bantuaanNya. Tapi...... ini malah saya jadikan tantanganku pada Tuhan. Saya menantangNya bahwa saya bisa dapat yang terbaik tanpa saya perlu dibantu. Saya menang. Saya diterima di fakultas terbaik di universitas negeri di tempat tinggal saya. Saya pun akhirnya diterima juga pada salah satu perguruan tinggi yang menjadi impian banyak lulusan SMA untuk bisa melanjutkan disana.
Berkali kali setelah saya memenangkan tantangan itu, saya selalu menang lagi.
Ujian ujian saya lewati, tanpa bantuanNya, walaupun ada yang remidi, toh saya selalu bisa melewati remidi itu. Tidak sepenuhnya kalah.
Suatu hari saya terjatuh. Tak ada lagi yang bisa saya minta bantuannya, kecuali bantuanNya. saya merasa tenang. Saya merasa kuat.
Saat itu lah, muncul malaikat itu. Penghubungku dengan Tuhan.
Ia memang tidak memuja Tuhan dengan mantra-mantra, persembahan ataupun dengan wewangian dupa, seperti yang familiar saya ketahui tentang cara memuja Tuhan. Namun ia selalu bercerita tentang Tuhan, tentang doa-doa. Dengan caranya. Saya mulai mendengarkan cerita-ceritanya. Awalnya saya suka mendengarkan ia bercerita bukan karena ceritanya. Namun karena caranya bercerita.
Saya sudah lama mengenalnya, sudah lama saya menaruh hati padanya. Sudah lama menaruh harap padanya. dan, sudah lama saya pernah dikecewakannya. Ia yang setahu saya cuek, saat bercerita tentang Tuhan, selalu terasa berbeda, terlihat ia menguasai pembicaraan itu. Terdengar di telinga saya, nadanya ketika bercerita tentang Tuhan dan kekuatan doa doa, lebih riang. Saya suka mendengarnya. Saya mulai tertarik dengan caranya memuja Tuhan. Sungguh terdengar menarik ketika ia yang menceritakan dengan penuh keriangan dan semangatnya.
Saat pertama kali saya mengikuti ibadahnya, saya sedikit grogi, namun saya yakin ia pasti tidak akan membiarkan saya kebingungan, ia pasti membimbingku. Satu lagu pujian saya dengarkan, tentang kebesaran Tuhan, airmata saya sudah menggenang hampir tak mampu kutahan. Sungguh inilah indahnya memuja Tuhan.
Sungguh saya tahu ia begitu mencintai Tuhannya, saya pun mencintai Tuhannya, Tuhanku.
No comments:
Post a Comment